Sabtu, 08 Mei 2021

contoh sintesis literatur

 contoh sintesis literatur


a.       Artikel 1

Judul : Pemanfaatan Video Pembelajaran Berbasis Geogebra Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMK. Jurnal Riset Pendidikan Matematika. 6 (1). 2019

·         Pemahan konsep matematika menjadi hal yang paling krusial dalam pembelajaran matematika. Hal itu karena dengan memahami konsep matetmatika, siswa bisa lebih mudah menyelesaikan masalah-masalah yang dijumpai dalam pembelajaran. Namun pada kenyataannya, pemahaman konsep matematika siswa masih tergolong lemah/rendah. Hal itu didukung dengan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh PISA pada tahun 2015 yang menyatakan bahwa nilai rata-rata siswa indonesia pada mata pelajaran matematika yaitu 403 poin dan berada di bawah rata-rata nilai dari negara-negara di ASEAN 493 poin.

·         Media pembelajaran berupa video merupakan media yang dinamic dan mudah digunakan oleh para siswa. Selain mudah, video dapat diputar berkali-kali sehingga dapat membantu siswa yang kurang cakap dalam belajar. Video pembelajaran sendiri memiliki banyak kelebihan seperti membuat siswa lebih mandiri dalam belajar, dapat menampilkan teori atau suatu gambar yang kompleks dan tidak terlihat dengan mata telanjang, dapat membandingkan 2 atau lebih adegan atau hal secara bersamaan dan lain sebagainya. Tentunya selain memeliki keleihan, video juga memiliki kekurangan diantaranya perlu bantuan alat lain seperti komputer atau smart phone, proyektor, dan lainnya.

·          Untuk melihat pengaruh penggunaan video pembelajaran berbasis Geogebra terhadap pemahaman konsep siswa, maka diperlukan kelompok kontrol sebagai pembanding, sehingga desain penelitian yang sesuai adalah quasi eksperiment noneqivalent control group design.

·         Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang belajar menggunakan video berbasis Geogebra lebih baik dibandingkan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Video pembelajaran berbasis Geogebra ini dapat menjadi variasi media pembelajaran matematika yang efektif, efesien dan terbukti ampuh untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.

b.      Artikel 2

Judul: Uji Effect Size Model Pembelajaran Scramble Dengan Media Video Terhadap Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X Man 1 Pesisir Barat. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi. 05 (2) (2016). 

·         Pengalaman belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika membuat siswa cendrung menilai bahwa fisika merupakan pembelajaran yang menakutkan dan tidak menarik. Hal tersebut mendorong siswa untuk acuh dan tidak serius dalam melakoni pembelajaran fisika. Akibatnya nilai fisika siswa menjadi kurang baik. Dalam mata pelajaran fisika, banyak sekali terdapat konsep-konsep yang terbilang abstrak dan sulit untuk di bayangkan sehingga siswa sulit memahami konsep yang abstrak tersebut. Selain itu, cara mengajar guru yang masih konvensional atau teacher centered membuat siswa cendrung bosan dan malas untuk belajar fisika.

·         Salah satu metode atau cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permsalahan diatas, yaitu dengan mengajarkan fisika dengan menggunakan model scrambel yang dengan berbantu media video pembelajaran. Model pembelajran Scramble merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan konsentrasi dan kecepatan berpikir peserta didik. Media video pembelajaran merupakan jenis media audio/visual yang menyajikan pesanpesan pembelajaran baik yang berisi konsep, prinsip, prosedur, teori aplikasi pengetahuan untuk membantu pemahaman terhadap suatu materi pembelajaran dalam bentuk gambar dan suara. Peranan media video pembelajaran sebagai berikut: a. Dapat menarik perhatian peserta didik sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. b. Memperjelas makna bahan pengajaran sehingga mudah dipahami siswa. c. Metode pengajaran lebih bervariasi. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.

·         Terdapat pengaruh model pembelajaran Scramble dengan media video terhadap hasil belajar peserta didik pada materi pengukuran kelas X MAN 1 Pesisir Barat, dengan thitung = 6,4 dan ttabel = 2,064. Karena thitung > ttabel = 6,4 > 2,064 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Selanjutnya, diperoleh hasil uji effect size sebesar 0,8. Hasil ini menunjukkan kan bahwa model pembelajaran Scramble dengan media video dapat mempengaruhi hasil belajar fisika peserta didik sebanyak 79%.

c.       Artikel  3

Judul: Pengembangan Multimedia Pembelajaran Fisika Berbasis Audio-Video Eksperimen Listrik Dinamis Di Smp. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, JPII 2 (2) (2013)

·         Perekembangan teknologi yang sangat pesat menuntut para guru untuk berkreasi terhadap pembelajaran yang dilakukan di kelas. Hal itu dilakukan demi menciptakan siswa yang siap menghadapi perkembangan tekhnologi yang ada di depan mata. Pemanfaatan tekhnologi dalam dunia pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemampuan siswa baik dalam memahami materi ataupun menyelesaikan masalah yang muncul selama pembelajaran. Misalnya penggunaan video pembelajaran untuk menunjang pembelajaran berbasis praktikum.

·         Hasil belajar peserta didik menunjukkan bahwa dengan menggunakan multimedia berbasis audio-video eksperimen listrik dinamis secara klasikal dikatakan tuntas belajar.

d.      Artikel 4

Judul: Pemanfaatan Visualisasi Video Percobaan Gravity Current Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Pada Materi Tekanan Hidrostati. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 02 Tahun 2013, 97 – 102

·         Pendidikan era sekarang sangat menuntut adanya pemanfaatan tekhnologi didalamnya. Pemanfaatan tekhnologi selain membantu kegiatan pembelajaran juga dapat memotifasi juga menanbah minat siswa dalam belajar. Terlebih lagi pada mata pelajaran fisika yang dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Oleh karenanya perlu pemanfaatan tekhnologi didalam pembelajaran fisika. Misalnya dengan memanfaatkan video pembelajaran. Dengan adanya video pembelajaran, konsep-konsep abstrak dalam mata pelajaran fisika dapat ditampilkan secara animasi atau gambar asli yang diperbesar puluhan atau ratusan kali.

·         keterlaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan visualisasi percobaan gravity current di laboratorium sebagai media pembelajaran untuk memahami konsep tekanan hidrostatis dengan lebih baik dapat terlaksana dengan baik, peningkatan pemahaman konsep fisika siswa pada materi pokok tekanan hidrostatis dengan memanfaatkan visualisasi video percobaan gravity current sebagai media pembelajaran tercapai dengan signifikan, dan subjek penelitian memberikan respons yang positif terhadap pembelajaran yang dilaksanakan.

 

SINTESIS LITERATUR

Berdasarkan artikel-artikel di atas, diketahui bahwasannya dalam kegiatan pembelajaran yang di lakukan pada era sekarang perlu adanya pemanfaatan media. Media selain sebagai media pembelajaran juga dapat dijadikan sebagai pemicu motifasi dan minat belajar siswa. Selain itu, dengan menerapkan atau memanfaatkan media pembelajaran, otomatis guru telah memanfaatkan adanya perkembangan tekhnologi yang dalam hal ini dimanfaatkan pada bidang pendidikan.

Sebelum menerapkan media, tentunya guru juga perlu memahami apa itu media dan apa saja hal yang termasuk kedalam media. Dengan memahami semua hal itu, guru dapat dengan mudah memilih media yang sesuai untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Selain tiu, guru juga dapat mengintegrasikan media misalnya video kedalam model pembelajaran yang sesuai sehingga diharapkan selain bisa menumbuhkan minat dan motivasi juga bisa digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa mada suatu mata pelajaran misalnya fisika.

Dengan adanya video pembelajaran dapat mengatasi secuil permasalahan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Karena video pembelajaran juga tidak bisa selalu menjadi media andalan dalam setiap kegiatan belajar. Pemanfaatan media pembelajaran perlu adanya analisa kebutuhan dimana disesuaikan dengan permasalah yanga ada di sekolah yang bersangkutan. Namun dalam kaitan dengan kegiatan belajar mandiri siswa, video pembelajaran dapat diandalkan karena bisa digunakan berkali-kali dan bisa dimanfaatkan kapanpun siswa butuh. Oleh karenanya video pembelajaran sangat bagus untuk dikembangkan dan dimanfaatkan didalam kegiatan pembelajaran. Baik di sekolah maupun dirumah sebagai bahan belajar mandiri.

Jumat, 18 Desember 2020

Praktikum Virtual Atau Virtual Experiments.

 

Virutal Experiments in Science Experiments

 

1.      Praktikum Virtual Atau Virtual Experiments.

Praktikum merupakan satu hal yang pokok dalam pembelajaran IPA, karena roh pembelajaran berbasis inkuiri ada di percobaan sebagai langkah untuk membuktikan hipotesis dengan mencari data-data sebagai input untuk membuat suatu kesimpulan ilmiah. Bukan hanya kumpulan pengetahuan tapi juga merupakan proses penemuan.

Tujuan dari praktikum adalah dapat membangkitkan motivasi belajar IPA bagi siswa, dapat mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen, dapat menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah, dapat menunjang materi pelajaran. Kegiatan praktikum ini memberi kesempatan kepada siswa untuk membuktikan teori bahkan menemukan teori. Berkaitan dengan kegiatan praktikum di sekolah, dewasa ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi semakin pesat dan mewarnai proses pembelajaran yang ada di sekolah. Siswa telah mampu mengoperasikan komputer, sehingga perkembangan tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru untuk menciptakan kegiatan praktikum ynag berbeda dari sebelumnya dengan metode dengan memanfaatkan multimedia.

Praktikum virtual merupakan serangkaian alat-alat laboratorium yang berbentuk perangkat lunak/komputer berbasis multimedia interaktif yang operasikan dengan komputer dan mensimulasikan kegiatan di laboratorium seakan-akan pengguna pada laboratorium sebenarnya.

Dalam konten praktikum virtual, simulasi yang sesuai pada aplikasi praktikum virtual, umumnya meningkatkan pembelajaran secara efektif dan memungkinkan siswa utnuk mengekspresikan gaya kognitif siswa saat praktikum. simulasi dirancang untuk memberikan untuk memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan hipotesis mereka sendiri tentang topik yang dipelajari dan mengembangkan masalah mereka sendiri dengan metode pemecahan maslaah. Terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa pelaksanaan praktikum virtual dalam ilmu khusus dapat meningkatkan pemahaman materi yang dipelajari, mengajarkan keterampilan berfikir kritis, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Karena dalam praktikum virtual menggunakan simulasi komputer berisi petunjuk khusus, prosedur, metode analisis data, dan alogaritma penyajian data. Meskipun pada dasarnya praktikum virtual adalah alternatif praktikum riil, namun program nyata, misalnya untuk mensimulasikan pembedahan organ pada tubuh hewan, siswa seolah-olah menggunakan pisau atau kakter untuk membedahnya.  

Bagaimana belajar praktikum biar menyenangkan dan serasa mengasikkan? apalagi di masa pandemi saat ini. Guru dan siswa berinteraksi secara virtual bisa melalui zoom tau google meet sebagai upaya memperlihatkan suasana praktikum. Alat dan bahan yang akan digunakan di jadikan praktikum bisa dipersiapkan terlebih dahulu. Tujuan praktek virtual ini adalah reproduksi tumbuhan dimaksud para siswa memahami cara perkembangbiakan tumbuhan baik secara seksual, aseksual, maupun vegetatif buatan seperti metode stek, mencangkok, penyambungan dan okulasi.

Kegiatan belajar praktikum dengan cara virtual ditengah masa pandemi ini menjadi pilihan efektif bagi guru. Guru harus merancang pembelajaran berbasis virtual ini dengan baik dan tentunya menyenangkan. Membuat suasana santai, nyaman dan ramah media, dengan tujuan supaya siswa tertarik dan mengikuti penjelasan guru dengan fokus.

Kegiatan praktikum juga dirancang untuk mengembangkan keterampilan proses sains yang erat kaitannya dengan keterampilan bernalar dan memecahkan masalah dalam konteks pembelajaran IPA. Praktikum membuat siswa lebih percaya atas kesimpulan pengamatan berdasarkan percobaan sendiri, namun tetap merujuk teori yang ada. Supaya para siswa bisa mengerjakan tugas dalam kegiatan praktikum, guru dapat mengajak siswa bekerja sama, bersikap jujur, terbuka, kritis dan bertoleransi.

Asyiknya belajar praktikum virtual, juga semakin memperkaya pengalaman siswa dengan hal-hal yang realistis. Siswa mampu mengembangkan sikap berfikir ilmiah, dengan mencoba, meneliti, mengamati dan menyimpulkan suatu prinsip konsep sains. Praktikum memberi bekal siswa untuk membentuk konsep sendiri dan cara bagaimana mempelajari sesuatu, hingga pada akhirnya siswa mampu mengembangkan kreatifitasnya.

Sebagai penguat kegiatan praktikum, guru juga telah menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), karena bukti ini tidak dapat terpisahkan dari kegiatan praktikum. LKPD menjadi penuntun bagi siswa dan guru dalam kegiatan praktikum. Guru hendaknya mempersiapkan LKPD dengan matang. Instruksi dan tahapan aktivitas praktikum di dalam LKPD harus jelas menggambarkan pengetahuan dan keterampilan apa yang diakses. Jangan lupa akses keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dalam kegiatan praktikum.

Pengembangan keterampilan metode praktikum bagi siswa sangat ideal dilakukan untuk mendukung pembelajaran IPA yang efektif. Kunci keberhasilan kegiatan praktikum terletak pada keterlibatan aktif peserta untuk berpikir, mengamati, melakukan pengujian, dan mengkomunikasikan hasil temuan dari eksperimen yang dilakukan. Semakin tinggi keterlibatan siswa dalam praktikum, semakin tinggi pencapaian pemahaman dan keterampilan proses sains.

Kita akan sama-sama melihat, sejauh mana metode pembelajaran jarak jauh untuk praktikum ini dapat efektif sebagai pengganti pembelajaran tatap muka. Mengembangkan potensi dan inovasi pembelajaran di masa Covid-19 adalah komitmen dan integritas pembelajaran yang kita bangun dan wujudkan kecintaan pada anak bangsa.

Kelebihan metode praktikum virtual:

a.       Ekonomis bahan dan alat praktikum

b.      Praktis digunakan peserta didik baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun mandiri

c.       Meningkatkan pemahaman karena dapat diulang jika belum faham

d.      Efektif waktu dalam melaksanakan eksperimen

e.       Aman dilaksanakan karena kesehatan keselamatan kerja (K3) minimal.

Salah satu fitur yang paling penting dari praktikum virtual adalah mudah dan pembaharuan materi terjadi terus menerus yang bertujuan untuk mencapai pembelajaran yang lebih optimal.

 

Analisa dan Modivikasi Video Praktikum.

 

Video praktikum yang saya analisa merupakan video praktikum dengan judul “kalor dan perpindahannya” dengan link video sebagai berikut https://www.youtube.com/watch?v=7Bnkfg3f94c

            Dalam video tersebut, praktikum dilakukan oleh anak SMP kelas VII. Dari segi tampilan video, video yang dibuat sedikit buram karena pengambilan video dilakuakn daidalam ruangan yang sedikit gelap. Seharusnya praktikum tersebut dapat dilakukan diruangan terang atau bisa juga dengan menyalakan lampu yang ada didalam ruangan.

            Dari segi pembukaan video sudah dibuka dengan baik namun terdapat kekurangan pada saat menyampaikan alat dan bahan dimana dimana terdapat bahan yang tidak disebutkan sedangkan bahan tersebut sangat penting dalam praktikum. bahan yang dimaksud yaitu “air”. Air digunakan dalam praktikum perpindahan kalor secara konduksi dan konfeksi, Namun air tidak disebutkan dalam bahan atau alat. Seharusnya karena kegunaannya yang penting dalam praktikum air juga disebut dalam salah satu komponen bahan.

            Pada kegiatan praktikum, hasil dari praktikum tidak diperlihatkan misalnya pada praktikum konduksi. Seharusnya diperlihatkan melelehnnya margarin yang diletakkan pada sendok yang dimasukkan kedalam air panas. Diperlihatkan bahwa sendok stelistil dapat menghantarkan panas sedangkan sendok plastik tidak dapat menghantarkan panas atau perpindahan kalor secara konduksi. Begitupula pada praktikum konveksi dan radiasi, yang seharusnya hasil dari praktikum dijelaskan atau minimal di sebutkan apa yang terjadi pada hasil praktikum tersebut.

             Sebagai sedikit masukan atau sebagai tambahan untuk memodifikasi video praktikum tersebut dapat diperbaiki atau di tambahkan hasilnya. praktikum serupa yang lebih bagus atau sudah terdapat penjelasan hasil praktikum yaitu sebagai berikut https://www.youtube.com/watch?v=GnM3s2pEHkU . dalam praktikum tersebut, setiap hasil dari apa yang terjadi selama praktikum di sebutkan dan dijelaskan. Sehingga praktikan atau orang lain yang melihat praktikum tersebut mengetahui makna dari praktikum yang dilakukan.

Jumat, 11 Desember 2020

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN SAINS BARU (LEARNING CYCLE, THE MODELINE HUNTER MODEL, THE CONTRUCTIVIST MODEL AND 5E MODEL) BERBASIC 6C

 

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN SAINS BARU (LEARNING CYCLE, THE MODELINE HUNTER MODEL, THE CONTRUCTIVIST MODEL AND 5E MODEL) BERBASIC 6C

 

1.      Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E (Learning Cycle)

Model siklus belajar adalah model pembelajaran yang terdiri fase– fase atau tahap–tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi–kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Model Pembelajaran Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme. Pendekatan teori konstruktivis pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan proses belajar mengajar. Sehingga proses belajar mengajar lebih berpusat pada siswa (student centered) dari pada teacher centerred. Dengan kata lain pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Siklus Belajar berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator (Trianto, 2008).

Model siklus belajar pertama kali diperkenalkan oleh Robert Karplus. Menurut Bybee dan sejawatnya pada tahun 1996 dalam Sciense Curriculum Improvement Study (SCIS) siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme yang terdiri dari 5 tahap yaitu engagement (pelibatan), selanjutnya tahap exploration (penyelidikan), tahap explanation (penjelasan), kemudian tahap elaboration (penggalian) dan tahap evaluation (evaluasi) (Wena, 2012).

Model siklus belajar ini mempunyai salah satu tujuan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkostruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri dengan terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berfikir baik secara individu maupun kelompok, sehingga siswa dapat menguasai kompetensi–kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran. Menurut Wena (2012) terdapat beberapa tahap siklus belajar.

a.        Tahap pelibatan (Engagement )

Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dengan keingintahuan (curiocity) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang sesuai dengan topik yang dibahas). Dengan demikian, siswa akan memberikan respon ∕ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan yang akan dibahas.

b.      Tahap penyelidikan (Exploration)

Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. Pada tahap ini, dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 3-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerjasama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis atau membuat hipotesisi baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengalaman serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin salah, sebagian benar.

c.       Tahap penjelasan (Explanation)

Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap penejelasan, bertujuan untuk melengkapi, menyempurnakan dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat / pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar dengan kritis penjelasan antara siswa atau guru. Pada tahap ini siswa menemukan istilah–istilah dari konsep yang dipelajari. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.

d.      Tahap penggalian (Elaboration)

Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan / mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.

 

e.       Tahap Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan model siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembejaran yang sudah dilakukan.

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E (Wena, 2012).

No

Tahapan sikus belajar

Kegiatan

Guru

Siswa

1

Tahap Pelibatan (Engagem ent)

·         Membangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity).

·         Mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Memberikan respon terhadap pertanyaan guru.

·         Mengkaitkan topik yang dibahas dengan pengalaman siswa. Mendorong siswa untuk mengingat pengalaman sehariharinya dan menunjukkan keterkaitannya dengan topik pembelajaran yang sedang dibahas.

·         Mengembangkan minat / rasa ingin tahu terhadap topik bahasan.

·         Memberikan respon terhadap pertanyaan guru.

·         Berusaha mengingat pengalaman sehari-hari dan menghubungkan dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.

2

Tahap Penyelidik an (Explorati on)

·         Membentuk kelompok, memberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil secara mandiri.

·         Guru berperan sebagai fasilitator.

·         Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri.

·         Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa, mendengarkan secara kritis penjelasan antara Menunjukkan bukti dan memberi klarifikasi terhadap ide-ide baru.siswa.

·         Memberi definisi dan penjelasan dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar kegiatan.

·         Membentuk kelompok dan berusaha bekerja dalam kelompok.

·         Membuat prediksi baru.

·         Mencoba alternatif pemecahan dengan teman sekelompok, mencatat pengalaman, serta mengembangkan ide-ide baru.

·         Menunjukkan bukti dan memberi klarifikasi terhadap ide-ide baru.

·         Mencermati dan berusaha memahami penjelasan guru.

3

Tahap Penjelasan (Explanation)

·         Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri.

·         Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa.

·         Mendengarkan secara kritis penjelasan antar siswa atau guru.

·         Mencoba memberikan penjelasan terhadap konsep yang ditemukan.

·         Menggunakan pengamatan dan catatan dalam memberi penjelasan.

·         Melakukan pembuktian terhadap konsep yang diajukan

4

Tahap Penggalia n (Elaborati on)

·         Mengingatkan siswa pada penjelasan alternatif dan mempertimbangkan data / bukti saat mereka mengeksplorasikan situasi baru.

·         Mendorong dan memfasilitasi siswa mengaplikasikan konsep / keterampilan dalam setting yang baru / lain.

·         Menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru dan menggunakan label dan definisi formal.

·         Bertanya, mengusulkan pemecahan, membuat keputusan, melakukan percobaan, dan pengamatan.

5

Tahap Evaluasi (Evaluatio n)

·         Mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam hal penerapan konsep baru.

·         Mendorong siswa melakukan evaluasi diri.

·         Mendorong siswa memahami kekurangan / kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran.

·         Mengevaluasi belajarnya sendiri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.

·         Mengambil kesimpulan lanjut atas situasi belajar yang dilakukannya.

·         Melihat dan menganalisis kekurangan / kelebihannya dalam kegitatan pembelajaran.

 

Implementasi Model Siklus belajar 5E dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivisme yaitu: 1) Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berfikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa. 2) Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu. 3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah (Hudojo dalam Ngalimun, 2013).

Menurut Ngalimun (2013) menyatakan bahwa penerapan model learning cycle memberi keuntungan sebagai berikut: 1) Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. 2) Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa 3) Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Menurut Soebagio dalam Ngalimun (2013) kekurangan penerapan model learning cycle yang harus selalu diantisipasi adalah sebagai berikut: 1) Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran. 2) Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. 3) Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi. 4) Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan.

1.      The Madeline Hunter Model

Inatruksi langsung memainkan peran yang terbatas namun penting dalam program pendidikan komprehensif. Kritik terhadap instruksi langsung memperingatkan kita bahwa model ini seharusnya tidak digunakan setiap saat, untuk semua bidang pendidikan, atau untuk semua siswa. Akan tetapi terlepas dari kewaspadaan atas peringatan ini, instruksi langsung tetap memiliki track record empiris yang relatif solid. Beberapa keunggulan terpenting dari instruksi langsung ini adalah adanya fokus akademik, arahan dan kontrol guru, harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, sistem menegeen waktu dan atmosfer akademik yang relatif stabil. Sintaks model pembelajaran dan kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel.

Tahap

Keterampilan

Kegiatan pembelajaran

Penilaian pra belajar

communication

·         Guru menanyakan ingatan siswa tentang materi sebelumnya.

·         Guru menentukan tema dari proses dan konsep dalam pembelajaran IPA

·         Guru bersama siswa mengidentifikasi tujuan utama dari mempelajari tata surya.

Pembelajaran dan pengurutan (sequencing)

Communication

Critikal thinking

Creatif thinking

·         Guru bersama siswa mengurutkan tujuan pembelajaran.

·         Siswa menyampaika latar belakang membuat model tata surya.

Set antisipatif

Critical thinking

Creatife thinking

Communication

Computasional logic

·         Guru memberikan stimulus memperlihatan video dan gambar yang berkaitan dengan tata surya.

·         Siswa mengajukan pertanyaan yang terkait dengan video.

Misal :

Apakah mungkin jika planet-planet dalam tata surya saling bertabrakan?

Mengapa planet-planet di tata surya tidak bertabrakan?

Bagaimana bumi berputar tetapi kita yang di bumi tidak terjatuh?

Objektif dan tujuan

Critical thinking

Creatif thinking

·         Siswa secara spesifik mengidentifikasi tujuan dari pembelajaran yang mereka lakukan.

Masukan interuksional

Collaboration

Critical thinking

Cerative thinking

·         Guru meminta siswa untuk duduk berkelompok .

Modeling

Collaboration

Communicative

Compassion

Cretaive thinking

·         Siswa mempelajari video, gambar dan materi tentang model tata surya.

·         Siswa berdiskusi dan membagi peran untuk memodelkan atau mensimulasikan tata surya. (kreatif, kolaboratif, dan komunikatif)

Monitor

Critical thinking

·         Dengan contoh yang sudah ada, guru merubah urutan dari planet-planet yang ada dan bertanya kepada siswa tentang susunan tersebut.

·         Guru dan siswa memonitor pemahaman siswa.

Praktik

Collaboration

Communicative

Creative thinking

Critical thinking

·         Siswa melakukan praktik pemodelan tata surya menggunakan bola dan balon.

·         Siswa dapat berkreasi dengan kelompoknya dalam menyeselaikan model tata surya yang di buat.

·         Siswa mengamati planet-planet dalam tata surya yang berada didalam video, buku, atau gambar.

·         Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk membuat model tata surya

·         Guru membantu siswa dengan mengingatkan dan mengawasi kegiatan pembuatan model tata surya, agar siswa tetap dalam koridor pembelajaran dan pemodelan yang dibuat tetap logis serta rasional.

·         Siswa bersama kelompoknya membagi peran untuk presentasi hasil kerja kelompoknya.

Penilaian pasca pelajaran

Critical thinking

Creative thinking

·         Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari.

·         Siswa dan guru memeriksa hasil proyek yang dikerjakan. Kesesuaian ukuran planet, jarak dan keindahan serta kerapiaannya. Sehingga pemodelan yang di buat dapat berkesan dan bermanfaat bagi siswa.

 

1.      The contructivist model

Suatu strategi pembelajaran dengan pendekatan kontruuktivisme menggunakan media modul sebagai alat bantu pembelajran di prediksi dapat meningkatkan motivasi dan memudahka siswa memahami pembelajaran sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan modul memungkinkan siswa mengetahui tingkat pemahaman karena siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan menggunakan kunci lembar jawaban yang dapat diminta kepada guru. Walaupun tersedia banyak model pembelajaran, model khusus pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme masih terbatas. Model yang telah digunakan dalam oembelajaran kontruktivisme antara lain: daur belajar kontruktifisme (contructivistlearning cycle) oleh Johnston, dan model kontruktifisme 5 -fase yang dikemukakan oleh needham (1987). Sintaks pembelajaran dapat dilihat pada tabel.

Tahap

Keterampilan

Kegiatan pembelajaran

Pembentukan kelompok kolaboratif

Collaboration

communication

·         Guru membagi siswa menjadi kelompok heterogen.

·         Guru menyepakati tentang aturan pemberian rekognisi tim

Aktifasi skemata

Communication

Critical thinking

·         Guru menyajikan fenomena-fenomena dan menyajikan konsep awal kepada siswa.

Menciptakan konflik kognitif

Critical thinking

Creative tihinking

·         Menciptakan konflik kognitif dapat difasilitasi dengan cara.

Siswa dibagi berberapa kelompok untuk berdiskusi.

Mendemonstrasikan atau mengeksperimenkan yang dapat menepis kekeliruan yang terjadi pada siswa pada konsepsi awal.

Perencanaan pembentukan konsep

Critical thinking

Creative thinking

·         Pada fase ini, siswa dilatihkan untuk terampil melakukan perancangan terhadap pembentukan konsep berdasarkan konflik kognitif yang di hadirkan. Indikator empirik yag harus dilakukan siswa yaitu, (1) menetapkan tujuan yang ingin dicapai, (2) merencanakan waktu yang akan digunakan dalam mencapai tujuan, (3) mempersiapkan pengetahuan awal yang harus dikuasai siswa untuk mencapai tujuan yang dibuat, dan (4) merencanakan dan memutuskan strategi kognitif yang paling tepat untuk mencapai tujuan.

Pembentukan konsep

Critical thinking

Creative thinking

Collaboration

Communication

 

·         Fase pembentukan konsep bertujuan mendorong terjadinya proses asimilasi dan akomodasi dalam struktur kognitif siswa sampai terbentuk keseimbangan kognitif siswa. Pembentukan konsep diorganisasi dalam kelompok kolaboratif. Pengalaman belajar yang diberikan berupa demonstrasi, diskusi, atau eksperimen yang meyakinkan konsepsi awal siswa kurang tepat atau konsepsi awal mereka dapat diperluas.

Presentasi kelas

communication

·         Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Kegiatan ini diperuntukan untuk melihat pemahaman siswa terhdap konsep yang ada, dan guru memperbaiki jika kurang pas atau bahkan salah.

Tes individu

Critical thinking

·         Setelah pembelajaran berlangsung, satu KD siswa para siswa diminta mengerjakan kuis individual. Para siswa mengerjakan siswa secara individu, sehingga setiap siswa bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaanya masing-masing

Rekognisi kelompok

communication

·         Menghitung skor kemajuan individual, skor tim, dan memberikan penghargaan tim. Gagasan dibalik skor kemajuan individual, skor tim, dan pemberian penghargaan untuk menanamkan pada diri siswa bahwa keberhasilan belajar akan dicapai apabila mereka belajar lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya.

 

 

 

REFERENSI

Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Joyce, B., Weil, M., Calhoun, E. 2011. Models Of Teaching. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.

Elizar. 2009. Model of Teaching By Constructivism Approach With Module. Jurnal Kependidikan Triadik. 12(1)

Barrouillet, P. 2015. Theories Of Cognitive Development: From Piaget to Today. Developmental Review, 38, 1-2. https://doi.org/10.1016/j.dr.2015.07.004