SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN SAINS BARU (LEARNING CYCLE,
THE MODELINE HUNTER MODEL, THE CONTRUCTIVIST MODEL AND 5E MODEL) BERBASIC 6C
1.
Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E
(Learning Cycle)
Model
siklus belajar adalah model pembelajaran yang terdiri fase– fase atau
tahap–tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat
menguasai kompetensi–kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan
jalan berperan aktif. Model Pembelajaran Siklus belajar merupakan salah satu
model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme. Pendekatan
teori konstruktivis pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka lewat keterlibatan proses belajar mengajar. Sehingga proses
belajar mengajar lebih berpusat pada siswa (student centered) dari pada teacher
centerred. Dengan kata lain pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Siklus
Belajar berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator (Trianto,
2008).
Model
siklus belajar pertama kali diperkenalkan oleh Robert Karplus. Menurut Bybee
dan sejawatnya pada tahun 1996 dalam Sciense Curriculum Improvement Study
(SCIS) siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivisme yang terdiri dari 5 tahap yaitu engagement (pelibatan),
selanjutnya tahap exploration (penyelidikan), tahap explanation (penjelasan),
kemudian tahap elaboration (penggalian) dan tahap evaluation (evaluasi) (Wena,
2012).
Model
siklus belajar ini mempunyai salah satu tujuan yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengkostruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri
dengan terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja
dan berfikir baik secara individu maupun kelompok, sehingga siswa dapat
menguasai kompetensi–kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran. Menurut
Wena (2012) terdapat beberapa tahap siklus belajar.
a. Tahap pelibatan (Engagement )
Pada
tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dengan
keingintahuan (curiocity) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini
dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam
kehidupan sehari-hari (yang sesuai dengan topik yang dibahas). Dengan demikian,
siswa akan memberikan respon ∕ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut
dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang
pokok bahasan yang akan dibahas.
b. Tahap
penyelidikan (Exploration)
Eksplorasi
merupakan tahap kedua model siklus belajar. Pada tahap ini, dibentuk
kelompok-kelompok kecil antara 3-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk
bekerjasama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam
kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis atau membuat hipotesisi
baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan
mencatat pengalaman serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi.
Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya
tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah
benar, masih salah, atau mungkin salah, sebagian benar.
c. Tahap
penjelasan (Explanation)
Penjelasan
merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap penejelasan, bertujuan untuk
melengkapi, menyempurnakan dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru
dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat /
pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan
saling mendengar dengan kritis penjelasan antara siswa atau guru. Pada tahap
ini siswa menemukan istilah–istilah dari konsep yang dipelajari. Dengan adanya
diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang
dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.
d. Tahap
penggalian (Elaboration)
Elaborasi
merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan
konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan
demikian siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan
/ mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap
ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan
meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong
peningkatan hasil belajar siswa.
e. Tahap
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi
merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat
mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa
dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari
jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh
sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi
tentang proses penerapan model siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah
berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula
melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan
dalam proses pembejaran yang sudah dilakukan.
Tabel
2.1 Sintaks Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E (Wena, 2012).
|
No
|
Tahapan sikus belajar
|
Kegiatan
|
|
Guru
|
Siswa
|
|
1
|
Tahap
Pelibatan (Engagem ent)
|
·
Membangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity).
·
Mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan
sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Memberikan respon
terhadap pertanyaan guru.
·
Mengkaitkan topik yang dibahas dengan pengalaman
siswa. Mendorong siswa untuk mengingat pengalaman sehariharinya dan
menunjukkan keterkaitannya dengan topik pembelajaran yang sedang dibahas.
|
·
Mengembangkan minat / rasa ingin tahu terhadap topik
bahasan.
·
Memberikan respon terhadap pertanyaan guru.
·
Berusaha mengingat pengalaman sehari-hari dan
menghubungkan dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.
|
|
2
|
Tahap
Penyelidik an (Explorati on)
|
·
Membentuk kelompok, memberi kesempatan untuk bekerja
sama dalam kelompok kecil secara mandiri.
·
Guru berperan sebagai fasilitator.
·
Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan
kalimat mereka sendiri.
·
Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa,
mendengarkan secara kritis penjelasan antara Menunjukkan bukti dan memberi
klarifikasi terhadap ide-ide baru.siswa.
·
Memberi definisi dan penjelasan dengan memakai
penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar kegiatan.
|
·
Membentuk kelompok dan berusaha bekerja dalam
kelompok.
·
Membuat prediksi baru.
·
Mencoba alternatif pemecahan dengan teman
sekelompok, mencatat pengalaman, serta mengembangkan ide-ide baru.
·
Menunjukkan bukti dan memberi klarifikasi terhadap
ide-ide baru.
·
Mencermati dan berusaha memahami penjelasan guru.
|
|
3
|
Tahap
Penjelasan (Explanation)
|
·
Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan
kalimat mereka sendiri.
·
Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa.
·
Mendengarkan secara kritis penjelasan antar siswa
atau guru.
|
·
Mencoba memberikan penjelasan terhadap konsep yang ditemukan.
·
Menggunakan pengamatan dan catatan dalam memberi
penjelasan.
·
Melakukan pembuktian terhadap konsep yang diajukan
|
|
4
|
Tahap
Penggalia n (Elaborati on)
|
·
Mengingatkan siswa pada penjelasan alternatif dan
mempertimbangkan data / bukti saat mereka mengeksplorasikan situasi baru.
·
Mendorong dan memfasilitasi siswa mengaplikasikan
konsep / keterampilan dalam setting yang baru / lain.
|
·
Menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi
baru dan menggunakan label dan definisi formal.
·
Bertanya, mengusulkan pemecahan, membuat keputusan,
melakukan percobaan, dan pengamatan.
|
|
5
|
Tahap
Evaluasi (Evaluatio n)
|
·
Mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam hal
penerapan konsep baru.
·
Mendorong siswa melakukan evaluasi diri.
·
Mendorong siswa memahami kekurangan / kelebihannya
dalam kegiatan pembelajaran.
|
·
Mengevaluasi belajarnya sendiri dengan mengajukan pertanyaan
terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan
yang diperoleh sebelumnya.
·
Mengambil kesimpulan lanjut atas situasi belajar
yang dilakukannya.
·
Melihat dan menganalisis kekurangan / kelebihannya
dalam kegitatan pembelajaran.
|
Implementasi
Model Siklus belajar 5E dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan
konstruktivisme yaitu: 1) Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi
secara bermakna dengan bekerja dan berfikir. Pengetahuan dikonstruksi dari
pengalaman siswa. 2) Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki
siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu. 3) Orientasi
pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah
(Hudojo dalam Ngalimun, 2013).
Menurut
Ngalimun (2013) menyatakan bahwa penerapan model learning cycle memberi
keuntungan sebagai berikut: 1) Meningkatkan motivasi belajar karena siswa
dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. 2) Membantu mengembangkan
sikap ilmiah siswa 3) Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Menurut
Soebagio dalam Ngalimun (2013) kekurangan penerapan model learning cycle yang
harus selalu diantisipasi adalah sebagai berikut: 1) Efektifitas pembelajaran
rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran. 2)
Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan
proses pembelajaran. 3) Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.
4) Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan
melaksanakan.
1.
The
Madeline Hunter Model
Inatruksi langsung memainkan peran yang terbatas namun
penting dalam program pendidikan komprehensif. Kritik terhadap instruksi
langsung memperingatkan kita bahwa model ini seharusnya tidak digunakan setiap
saat, untuk semua bidang pendidikan, atau untuk semua siswa. Akan tetapi
terlepas dari kewaspadaan atas peringatan ini, instruksi langsung tetap
memiliki track record empiris yang relatif solid. Beberapa keunggulan
terpenting dari instruksi langsung ini adalah adanya fokus akademik, arahan dan
kontrol guru, harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, sistem menegeen
waktu dan atmosfer akademik yang relatif stabil. Sintaks model pembelajaran dan
kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel.
|
Tahap
|
Keterampilan
|
Kegiatan pembelajaran
|
|
Penilaian pra belajar
|
communication
|
·
Guru menanyakan ingatan
siswa tentang materi sebelumnya.
·
Guru menentukan
tema dari proses dan konsep dalam pembelajaran IPA
·
Guru bersama siswa
mengidentifikasi tujuan utama dari mempelajari tata surya.
|
|
Pembelajaran dan pengurutan (sequencing)
|
Communication
Critikal thinking
Creatif thinking
|
·
Guru bersama siswa
mengurutkan tujuan pembelajaran.
·
Siswa menyampaika
latar belakang membuat model tata surya.
|
|
Set antisipatif
|
Critical thinking
Creatife thinking
Communication
Computasional logic
|
·
Guru memberikan
stimulus memperlihatan video dan gambar yang berkaitan dengan tata surya.
·
Siswa mengajukan
pertanyaan yang terkait dengan video.
Misal :
Apakah mungkin
jika planet-planet dalam tata surya saling bertabrakan?
Mengapa planet-planet
di tata surya tidak bertabrakan?
Bagaimana bumi
berputar tetapi kita yang di bumi tidak terjatuh?
|
|
Objektif dan tujuan
|
Critical thinking
Creatif thinking
|
·
Siswa secara
spesifik mengidentifikasi tujuan dari pembelajaran yang mereka lakukan.
|
|
Masukan interuksional
|
Collaboration
Critical thinking
Cerative thinking
|
·
Guru meminta siswa
untuk duduk berkelompok .
|
|
Modeling
|
Collaboration
Communicative
Compassion
Cretaive thinking
|
·
Siswa mempelajari
video, gambar dan materi tentang model tata surya.
·
Siswa berdiskusi
dan membagi peran untuk memodelkan atau mensimulasikan tata surya. (kreatif,
kolaboratif, dan komunikatif)
|
|
Monitor
|
Critical thinking
|
·
Dengan contoh yang
sudah ada, guru merubah urutan dari planet-planet yang ada dan bertanya
kepada siswa tentang susunan tersebut.
·
Guru dan siswa memonitor
pemahaman siswa.
|
|
Praktik
|
Collaboration
Communicative
Creative thinking
Critical thinking
|
·
Siswa melakukan
praktik pemodelan tata surya menggunakan bola dan balon.
·
Siswa dapat berkreasi
dengan kelompoknya dalam menyeselaikan model tata surya yang di buat.
·
Siswa mengamati planet-planet
dalam tata surya yang berada didalam video, buku, atau gambar.
·
Siswa bekerja sama
dalam kelompoknya untuk membuat model tata surya
·
Guru membantu siswa
dengan mengingatkan dan mengawasi kegiatan pembuatan model tata surya, agar
siswa tetap dalam koridor pembelajaran dan pemodelan yang dibuat tetap logis
serta rasional.
·
Siswa bersama
kelompoknya membagi peran untuk presentasi hasil kerja kelompoknya.
|
|
Penilaian pasca pelajaran
|
Critical thinking
Creative thinking
|
·
Guru memberikan
pertanyaan kepada siswa untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan pemahaman
siswa terhadap materi yang sudah dipelajari.
·
Siswa dan guru
memeriksa hasil proyek yang dikerjakan. Kesesuaian ukuran planet, jarak dan
keindahan serta kerapiaannya. Sehingga pemodelan yang di buat dapat berkesan
dan bermanfaat bagi siswa.
|
1.
The contructivist
model
Suatu strategi pembelajaran dengan pendekatan kontruuktivisme
menggunakan media modul sebagai alat bantu pembelajran di prediksi dapat meningkatkan
motivasi dan memudahka siswa memahami pembelajaran sehingga akan meningkatkan
hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan modul memungkinkan siswa
mengetahui tingkat pemahaman karena siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan
menggunakan kunci lembar jawaban yang dapat diminta kepada guru. Walaupun
tersedia banyak model pembelajaran, model khusus pembelajaran dengan pendekatan
kontruktivisme masih terbatas. Model yang telah digunakan dalam oembelajaran
kontruktivisme antara lain: daur belajar kontruktifisme (contructivistlearning
cycle) oleh Johnston, dan model kontruktifisme 5 -fase yang dikemukakan oleh
needham (1987). Sintaks pembelajaran dapat dilihat pada tabel.
|
Tahap
|
Keterampilan
|
Kegiatan pembelajaran
|
|
Pembentukan kelompok
kolaboratif
|
Collaboration
communication
|
·
Guru membagi siswa
menjadi kelompok heterogen.
·
Guru menyepakati
tentang aturan pemberian rekognisi tim
|
|
Aktifasi skemata
|
Communication
Critical thinking
|
·
Guru menyajikan
fenomena-fenomena dan menyajikan konsep awal kepada siswa.
|
|
Menciptakan konflik
kognitif
|
Critical thinking
Creative tihinking
|
·
Menciptakan konflik
kognitif dapat difasilitasi dengan cara.
Siswa dibagi berberapa kelompok untuk berdiskusi.
Mendemonstrasikan atau mengeksperimenkan yang dapat
menepis kekeliruan yang terjadi pada siswa pada konsepsi awal.
|
|
Perencanaan pembentukan
konsep
|
Critical thinking
Creative thinking
|
·
Pada fase ini,
siswa dilatihkan untuk terampil melakukan perancangan terhadap pembentukan
konsep berdasarkan konflik kognitif yang di hadirkan. Indikator empirik yag
harus dilakukan siswa yaitu, (1) menetapkan tujuan yang ingin dicapai, (2)
merencanakan waktu yang akan digunakan dalam mencapai tujuan, (3)
mempersiapkan pengetahuan awal yang harus dikuasai siswa untuk mencapai
tujuan yang dibuat, dan (4) merencanakan dan memutuskan strategi kognitif
yang paling tepat untuk mencapai tujuan.
|
|
Pembentukan konsep
|
Critical thinking
Creative thinking
Collaboration
Communication
|
·
Fase pembentukan
konsep bertujuan mendorong terjadinya proses asimilasi dan akomodasi dalam
struktur kognitif siswa sampai terbentuk keseimbangan kognitif siswa. Pembentukan
konsep diorganisasi dalam kelompok kolaboratif. Pengalaman belajar yang
diberikan berupa demonstrasi, diskusi, atau eksperimen yang meyakinkan
konsepsi awal siswa kurang tepat atau konsepsi awal mereka dapat diperluas.
|
|
Presentasi kelas
|
communication
|
·
Siswa mempresentasikan
hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Kegiatan ini diperuntukan untuk
melihat pemahaman siswa terhdap konsep yang ada, dan guru memperbaiki jika
kurang pas atau bahkan salah.
|
|
Tes individu
|
Critical thinking
|
·
Setelah pembelajaran
berlangsung, satu KD siswa para siswa diminta mengerjakan kuis individual. Para
siswa mengerjakan siswa secara individu, sehingga setiap siswa bertanggung
jawab terhadap hasil pekerjaanya masing-masing
|
|
Rekognisi kelompok
|
communication
|
·
Menghitung skor
kemajuan individual, skor tim, dan memberikan penghargaan tim. Gagasan dibalik
skor kemajuan individual, skor tim, dan pemberian penghargaan untuk
menanamkan pada diri siswa bahwa keberhasilan belajar akan dicapai apabila
mereka belajar lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik dari
sebelumnya.
|
REFERENSI
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Joyce, B., Weil, M., Calhoun, E. 2011. Models Of Teaching. Yogyakarta
:Pustaka Pelajar.
Elizar. 2009. Model of Teaching By Constructivism Approach With Module.
Jurnal Kependidikan Triadik. 12(1)
Barrouillet,
P. 2015. Theories Of Cognitive Development: From Piaget to Today. Developmental
Review, 38, 1-2. https://doi.org/10.1016/j.dr.2015.07.004