Jumat, 11 Desember 2020

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN SAINS BARU (LEARNING CYCLE, THE MODELINE HUNTER MODEL, THE CONTRUCTIVIST MODEL AND 5E MODEL) BERBASIC 6C

 

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN SAINS BARU (LEARNING CYCLE, THE MODELINE HUNTER MODEL, THE CONTRUCTIVIST MODEL AND 5E MODEL) BERBASIC 6C

 

1.      Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E (Learning Cycle)

Model siklus belajar adalah model pembelajaran yang terdiri fase– fase atau tahap–tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi–kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Model Pembelajaran Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme. Pendekatan teori konstruktivis pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan proses belajar mengajar. Sehingga proses belajar mengajar lebih berpusat pada siswa (student centered) dari pada teacher centerred. Dengan kata lain pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Siklus Belajar berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator (Trianto, 2008).

Model siklus belajar pertama kali diperkenalkan oleh Robert Karplus. Menurut Bybee dan sejawatnya pada tahun 1996 dalam Sciense Curriculum Improvement Study (SCIS) siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme yang terdiri dari 5 tahap yaitu engagement (pelibatan), selanjutnya tahap exploration (penyelidikan), tahap explanation (penjelasan), kemudian tahap elaboration (penggalian) dan tahap evaluation (evaluasi) (Wena, 2012).

Model siklus belajar ini mempunyai salah satu tujuan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkostruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri dengan terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berfikir baik secara individu maupun kelompok, sehingga siswa dapat menguasai kompetensi–kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran. Menurut Wena (2012) terdapat beberapa tahap siklus belajar.

a.        Tahap pelibatan (Engagement )

Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dengan keingintahuan (curiocity) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang sesuai dengan topik yang dibahas). Dengan demikian, siswa akan memberikan respon ∕ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan yang akan dibahas.

b.      Tahap penyelidikan (Exploration)

Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. Pada tahap ini, dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 3-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerjasama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis atau membuat hipotesisi baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengalaman serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin salah, sebagian benar.

c.       Tahap penjelasan (Explanation)

Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap penejelasan, bertujuan untuk melengkapi, menyempurnakan dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat / pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar dengan kritis penjelasan antara siswa atau guru. Pada tahap ini siswa menemukan istilah–istilah dari konsep yang dipelajari. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.

d.      Tahap penggalian (Elaboration)

Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan / mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.

 

e.       Tahap Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan model siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembejaran yang sudah dilakukan.

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Siklus Belajar 5E (Wena, 2012).

No

Tahapan sikus belajar

Kegiatan

Guru

Siswa

1

Tahap Pelibatan (Engagem ent)

·         Membangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity).

·         Mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Memberikan respon terhadap pertanyaan guru.

·         Mengkaitkan topik yang dibahas dengan pengalaman siswa. Mendorong siswa untuk mengingat pengalaman sehariharinya dan menunjukkan keterkaitannya dengan topik pembelajaran yang sedang dibahas.

·         Mengembangkan minat / rasa ingin tahu terhadap topik bahasan.

·         Memberikan respon terhadap pertanyaan guru.

·         Berusaha mengingat pengalaman sehari-hari dan menghubungkan dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.

2

Tahap Penyelidik an (Explorati on)

·         Membentuk kelompok, memberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil secara mandiri.

·         Guru berperan sebagai fasilitator.

·         Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri.

·         Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa, mendengarkan secara kritis penjelasan antara Menunjukkan bukti dan memberi klarifikasi terhadap ide-ide baru.siswa.

·         Memberi definisi dan penjelasan dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar kegiatan.

·         Membentuk kelompok dan berusaha bekerja dalam kelompok.

·         Membuat prediksi baru.

·         Mencoba alternatif pemecahan dengan teman sekelompok, mencatat pengalaman, serta mengembangkan ide-ide baru.

·         Menunjukkan bukti dan memberi klarifikasi terhadap ide-ide baru.

·         Mencermati dan berusaha memahami penjelasan guru.

3

Tahap Penjelasan (Explanation)

·         Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri.

·         Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa.

·         Mendengarkan secara kritis penjelasan antar siswa atau guru.

·         Mencoba memberikan penjelasan terhadap konsep yang ditemukan.

·         Menggunakan pengamatan dan catatan dalam memberi penjelasan.

·         Melakukan pembuktian terhadap konsep yang diajukan

4

Tahap Penggalia n (Elaborati on)

·         Mengingatkan siswa pada penjelasan alternatif dan mempertimbangkan data / bukti saat mereka mengeksplorasikan situasi baru.

·         Mendorong dan memfasilitasi siswa mengaplikasikan konsep / keterampilan dalam setting yang baru / lain.

·         Menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru dan menggunakan label dan definisi formal.

·         Bertanya, mengusulkan pemecahan, membuat keputusan, melakukan percobaan, dan pengamatan.

5

Tahap Evaluasi (Evaluatio n)

·         Mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam hal penerapan konsep baru.

·         Mendorong siswa melakukan evaluasi diri.

·         Mendorong siswa memahami kekurangan / kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran.

·         Mengevaluasi belajarnya sendiri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.

·         Mengambil kesimpulan lanjut atas situasi belajar yang dilakukannya.

·         Melihat dan menganalisis kekurangan / kelebihannya dalam kegitatan pembelajaran.

 

Implementasi Model Siklus belajar 5E dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivisme yaitu: 1) Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berfikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa. 2) Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu. 3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah (Hudojo dalam Ngalimun, 2013).

Menurut Ngalimun (2013) menyatakan bahwa penerapan model learning cycle memberi keuntungan sebagai berikut: 1) Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. 2) Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa 3) Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Menurut Soebagio dalam Ngalimun (2013) kekurangan penerapan model learning cycle yang harus selalu diantisipasi adalah sebagai berikut: 1) Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran. 2) Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. 3) Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi. 4) Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan.

1.      The Madeline Hunter Model

Inatruksi langsung memainkan peran yang terbatas namun penting dalam program pendidikan komprehensif. Kritik terhadap instruksi langsung memperingatkan kita bahwa model ini seharusnya tidak digunakan setiap saat, untuk semua bidang pendidikan, atau untuk semua siswa. Akan tetapi terlepas dari kewaspadaan atas peringatan ini, instruksi langsung tetap memiliki track record empiris yang relatif solid. Beberapa keunggulan terpenting dari instruksi langsung ini adalah adanya fokus akademik, arahan dan kontrol guru, harapan yang tinggi terhadap perkembangan siswa, sistem menegeen waktu dan atmosfer akademik yang relatif stabil. Sintaks model pembelajaran dan kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel.

Tahap

Keterampilan

Kegiatan pembelajaran

Penilaian pra belajar

communication

·         Guru menanyakan ingatan siswa tentang materi sebelumnya.

·         Guru menentukan tema dari proses dan konsep dalam pembelajaran IPA

·         Guru bersama siswa mengidentifikasi tujuan utama dari mempelajari tata surya.

Pembelajaran dan pengurutan (sequencing)

Communication

Critikal thinking

Creatif thinking

·         Guru bersama siswa mengurutkan tujuan pembelajaran.

·         Siswa menyampaika latar belakang membuat model tata surya.

Set antisipatif

Critical thinking

Creatife thinking

Communication

Computasional logic

·         Guru memberikan stimulus memperlihatan video dan gambar yang berkaitan dengan tata surya.

·         Siswa mengajukan pertanyaan yang terkait dengan video.

Misal :

Apakah mungkin jika planet-planet dalam tata surya saling bertabrakan?

Mengapa planet-planet di tata surya tidak bertabrakan?

Bagaimana bumi berputar tetapi kita yang di bumi tidak terjatuh?

Objektif dan tujuan

Critical thinking

Creatif thinking

·         Siswa secara spesifik mengidentifikasi tujuan dari pembelajaran yang mereka lakukan.

Masukan interuksional

Collaboration

Critical thinking

Cerative thinking

·         Guru meminta siswa untuk duduk berkelompok .

Modeling

Collaboration

Communicative

Compassion

Cretaive thinking

·         Siswa mempelajari video, gambar dan materi tentang model tata surya.

·         Siswa berdiskusi dan membagi peran untuk memodelkan atau mensimulasikan tata surya. (kreatif, kolaboratif, dan komunikatif)

Monitor

Critical thinking

·         Dengan contoh yang sudah ada, guru merubah urutan dari planet-planet yang ada dan bertanya kepada siswa tentang susunan tersebut.

·         Guru dan siswa memonitor pemahaman siswa.

Praktik

Collaboration

Communicative

Creative thinking

Critical thinking

·         Siswa melakukan praktik pemodelan tata surya menggunakan bola dan balon.

·         Siswa dapat berkreasi dengan kelompoknya dalam menyeselaikan model tata surya yang di buat.

·         Siswa mengamati planet-planet dalam tata surya yang berada didalam video, buku, atau gambar.

·         Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk membuat model tata surya

·         Guru membantu siswa dengan mengingatkan dan mengawasi kegiatan pembuatan model tata surya, agar siswa tetap dalam koridor pembelajaran dan pemodelan yang dibuat tetap logis serta rasional.

·         Siswa bersama kelompoknya membagi peran untuk presentasi hasil kerja kelompoknya.

Penilaian pasca pelajaran

Critical thinking

Creative thinking

·         Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari.

·         Siswa dan guru memeriksa hasil proyek yang dikerjakan. Kesesuaian ukuran planet, jarak dan keindahan serta kerapiaannya. Sehingga pemodelan yang di buat dapat berkesan dan bermanfaat bagi siswa.

 

1.      The contructivist model

Suatu strategi pembelajaran dengan pendekatan kontruuktivisme menggunakan media modul sebagai alat bantu pembelajran di prediksi dapat meningkatkan motivasi dan memudahka siswa memahami pembelajaran sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan modul memungkinkan siswa mengetahui tingkat pemahaman karena siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan menggunakan kunci lembar jawaban yang dapat diminta kepada guru. Walaupun tersedia banyak model pembelajaran, model khusus pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme masih terbatas. Model yang telah digunakan dalam oembelajaran kontruktivisme antara lain: daur belajar kontruktifisme (contructivistlearning cycle) oleh Johnston, dan model kontruktifisme 5 -fase yang dikemukakan oleh needham (1987). Sintaks pembelajaran dapat dilihat pada tabel.

Tahap

Keterampilan

Kegiatan pembelajaran

Pembentukan kelompok kolaboratif

Collaboration

communication

·         Guru membagi siswa menjadi kelompok heterogen.

·         Guru menyepakati tentang aturan pemberian rekognisi tim

Aktifasi skemata

Communication

Critical thinking

·         Guru menyajikan fenomena-fenomena dan menyajikan konsep awal kepada siswa.

Menciptakan konflik kognitif

Critical thinking

Creative tihinking

·         Menciptakan konflik kognitif dapat difasilitasi dengan cara.

Siswa dibagi berberapa kelompok untuk berdiskusi.

Mendemonstrasikan atau mengeksperimenkan yang dapat menepis kekeliruan yang terjadi pada siswa pada konsepsi awal.

Perencanaan pembentukan konsep

Critical thinking

Creative thinking

·         Pada fase ini, siswa dilatihkan untuk terampil melakukan perancangan terhadap pembentukan konsep berdasarkan konflik kognitif yang di hadirkan. Indikator empirik yag harus dilakukan siswa yaitu, (1) menetapkan tujuan yang ingin dicapai, (2) merencanakan waktu yang akan digunakan dalam mencapai tujuan, (3) mempersiapkan pengetahuan awal yang harus dikuasai siswa untuk mencapai tujuan yang dibuat, dan (4) merencanakan dan memutuskan strategi kognitif yang paling tepat untuk mencapai tujuan.

Pembentukan konsep

Critical thinking

Creative thinking

Collaboration

Communication

 

·         Fase pembentukan konsep bertujuan mendorong terjadinya proses asimilasi dan akomodasi dalam struktur kognitif siswa sampai terbentuk keseimbangan kognitif siswa. Pembentukan konsep diorganisasi dalam kelompok kolaboratif. Pengalaman belajar yang diberikan berupa demonstrasi, diskusi, atau eksperimen yang meyakinkan konsepsi awal siswa kurang tepat atau konsepsi awal mereka dapat diperluas.

Presentasi kelas

communication

·         Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Kegiatan ini diperuntukan untuk melihat pemahaman siswa terhdap konsep yang ada, dan guru memperbaiki jika kurang pas atau bahkan salah.

Tes individu

Critical thinking

·         Setelah pembelajaran berlangsung, satu KD siswa para siswa diminta mengerjakan kuis individual. Para siswa mengerjakan siswa secara individu, sehingga setiap siswa bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaanya masing-masing

Rekognisi kelompok

communication

·         Menghitung skor kemajuan individual, skor tim, dan memberikan penghargaan tim. Gagasan dibalik skor kemajuan individual, skor tim, dan pemberian penghargaan untuk menanamkan pada diri siswa bahwa keberhasilan belajar akan dicapai apabila mereka belajar lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya.

 

 

 

REFERENSI

Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Joyce, B., Weil, M., Calhoun, E. 2011. Models Of Teaching. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.

Elizar. 2009. Model of Teaching By Constructivism Approach With Module. Jurnal Kependidikan Triadik. 12(1)

Barrouillet, P. 2015. Theories Of Cognitive Development: From Piaget to Today. Developmental Review, 38, 1-2. https://doi.org/10.1016/j.dr.2015.07.004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar