Pengertian Model Project Based
Learning (PjBL)
Goodman
dan Stivers (2010) mendefinisikan Project Based Learning (PjBL) merupakan
pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas
nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan
kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok.
Menurut
Afriana (2015), pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna
bagi peserta didik. Pengalaman belajar peserta didik maupun konsep dibangun
berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.
Grant (2002) mendefinisikan project based
learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam
terhadap suatu topik. Peserta didik secara konstruktif melakukan pendalaman
pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan
pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan.
Sedangkan
Made Wena (dalam Lestari, 2015: 14) menyatakan bahwa model Project Based
Learning adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada pendidik
untuk mengelola pembelajaran dikelas dengan melibatkan kerja proyek. Kerja
proyek merupakan suatu bentuk kerja yang memuat tugas-tugas kompleks
berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan yang sangat menantang dan
menuntun peserta didik untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan,
melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan peserta didik untuk
bekerja secara mandiri. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) menciptakan
lingkungan belajar "konstruktivis" dimana peserta didik membangun
pengetahuan mereka sendiri dan pendidik menjadi fasilitator. (Goodman dan
Stivers, 2010).
Mengapa Model Project
Based Learning (PjBL)
Karakteristik
model Project-based Learning diantaranya yaitu peserta didik dihadapkan pada
permasalahan konkret, mencari solusi, dan mengerjakan projek dalam tim untuk
mengatasi masalah tersebut
Pada model PjBL peserta
didik tidak hanya memahami konten, tetapi juga menumbuhkan keterampilan pada
peserta didik bagaimanan berperan di masyarakat. Keterampilan yang ditumbukan
dalam PjBl diantaranya keterampilan komunikasi dan presentasi, keterampilan
manajemen organisasi dan waktu, keterampilan penelitian dan penyelidikan,
keterampilan penilaian diri dan refleksi, partisipasi kelompok dan
kepemimpinan, dan pemikiran kritis.
Penilian
kinerja pada PjBL dapat dilakukan secara individual dengan memperhitungkan
kualitas produk yang dihasilkan, kedalaman pemahaman konten yang ditunjukkan,
dan kontribusi yang diberikan pada proses realisasi proyek yang sedang
berlangsung. PjBL juga memungkinkan peserta didik untuk merefleksikan ide dan
pendapat mereka sendiri, dan membuat keputusan yang mempengaruhi hasil proyek
dan proses pembelajaran secara umum, dan mempresentasikan hasil akhir produk.
Berikut
ini beberapa hasil penelitian tentang penerapan PjBL. Rezeki, dkk (2015)
menyatakan bahwa penerapan metode pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
disertai dengan peta konsep dapat pada materi redoks kelas X-3 SMA Negeri
Kebakkramat tahun pelajaran 2013/2014 dapat meningkatkan aktivitas belajar
peserta didik. Penerapan metode pembelajaran project based learning (PjBL)
disertai peta konsep pada materi redoks kelas X-3 SMA Negeri Kebakkramat tahun
pelajaran 2013 / 2014 dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik, dari
hasil prestasi belajar kognitif pada siklus I sebesar 41,67% meningkat menjadi
77,78% pada siklus II. Prestasi belajar aspek afektif pada siklus I sebesar
58,33% meningkat menjadi 80, 55% pada siklus II. Sedangkan Nurfitriyanti (2016)
dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa terdapat pengaruh penerapan model
pembelajaran Project based learning terhadap kemampuan pemecahan masalah
matematika. Kemampuan pemecahan masalah matematika yang diajarkan menggunakan
model pembelajaran project based learning lebih baik daripada yang diajarkan
dengan menggunakan model pembelajaran ekspositori.
Global SchoolNet (2000) dalam Nurohman melaporkan hasil penelitian the AutoDesk Foundation tentang karakteristik Project Based Learning. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa Project Based Learning adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. 1. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah
kerangka kerja,
2. 2. adanya permasalahan atau tantangan yang
diajukan kepada peserta didik,
3. 3. peserta didik mendesain proses untuk
menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan,
4. 4. peserta didik secara kolaboratif
bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan
permasalahan,
5. 5. proses evaluasi dijalankan secara
kontinyu,
6. 6. peserta didik secara berkala melakukan
refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan,
7. 7. produk akhir aktivitas belajar akan
dievaluasi secara kualitatif,
8. 8. situasi pembelajaran sangat toleran
terhadap kesalahan dan perubahan (Global SchoolNet, 2000)
Keunggulan
penerapan model project based learning yaitu: “(1) meningkatkan motivasi
belajar peserta didik untuk belajar mendorong kemampuan mereka untuk melakukan
pekerjaan penting, dan mereka perlu dihargai; (2) meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah; (3) membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil
memecahkan problem-problem yang kompleks; (4) meningkatkan kolaborasi: (5)
mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan
komunikasi; (6) meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber;
(7) memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam
mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti
perlengkapan untuk menyelesaikan tugas; (8) menyediakan pengalaman belajar yang
melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang berkembang sesuai dunia
nyata; (9) melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan
menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia
nyata; (10) membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta
didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran” (Kurniasih dalam
Nurfitriyani, 2016)
Kapan Model Project Based
Learning dapat diterapkan?
Model
pembelajaran ini dapat digunakan ketika pendidik ingin mengkondisikan
pembelajaran aktif yang berpusat pada peserta didik dimana peserta didik
memiliki pengalaman belajar yang lebih menarik dan menghasilkan sebuah karya
berdasarkan permasalahan nyata (kontekstual) yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari. Model pembelajaran ini juga dapat digunakan ketika pendidik ingin
lebih menekankan pada keterampilan sains yaitu pada kegiatan mengamati,
menggunakan alat dan bahan, menginterpretasikan, merencanakan proyek,
menerapkan konsep, mengajukan pertanyaan dan berkomunikasi dengan baik. Selain
itu pendidik juga dapat menggunakan model PjBL ketika ingin mengembangkan
kemampuan berfikir kreatif peserta didik dalam merancang dan membuat sebuah
proyek yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan secara sistematis.
Sehingga model PjBL ini dapat membudayakan berpikir tingkat tinggi (high order
thinking/HOT) dalam mengimplementasikan pembelajaran saintifik (Mengamati,
Mengasosiasi, Mencoba, Mendiskusikan, dan Mengkomunikasikan) serta pembelajaran
abad 21 (4C: Critical thinking, Collaboration, Creative, Communication).
Pembelajaran
project based learning dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syaratsyarat
berikut: a. pendidik harus terampil mengidentifikasi kompetensi dasar yang
lebih menekankan pada aspek keterampilan atau pengetahuan pada tingkat
penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi; b. pendidik mampu memilih materi
atau topik-topik yang akan dijadikan tema proyek sehingga menjadi menarik; c.
pendidik harus terampil menumbuhkan motivasi peserta didik dalam mengerjakan
proyek; d. adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup; d. pendidik harus
melihat kesesuaian waktu proyek dengan kalender akademik sehingga kegiatan
proyek memungkinkan akan dilakukan.
Bagaimana karakteristik
materi pembelajaran yang sesuai dalam penerapan Model Project Based learning?
Seperti
yang sudah di uraikan bahwa model Project Based Learning merupakan model
pembelajaran yang lebih menekankan pada keterampilan proses sains dan berkaitan
dengan kehidupan nyata atau sehari-hari sehingga karakteristik materi yang
sesuai dalam penerapan model Project Based learning ini yaitu:
·
Memiliki kompetensi dasar yang lebih
menekankan pada aspek keterampilan atau pengetahuan pada tingkat penerapan,
analisis, sintesis, dan evaluasi (memodifikasi, mencoba, membuat, menggunakan,
mengoperasikan, memproduksi, merekonstruksi, mendemonstrasikan, menciptakan,
merancang, menguji, dll)
·
Dapat menghasilkan sebuah produk,
·
Memiliki keterkaitan dengan permasalahan
nyata atau kehidupan sehari-hari
Bagaimana Tahapan Umum
Alur Pembelajaran (Learning Path) Model Project Based Learning?
Menurut
Educational Technology Division-Ministry of Education Malaysia (2006) terdapat
6 langkah agar pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek ini berhasil yaitu
dengan mempersiapkan pertanyaan penting terkait suatu topik maeri yang akan
dipelajari, membuat rencana proyek, membuat jadwal, memonitor pelaksaan
pembelajaran berbasis proyek (PBL), melakukan penilaian, dan valuasi
pembelajaran berbasis proyek (PBL). Menurut
Rais dalam Lestari (2015) langkah-langkah model pembelajaran Project Based
Learning adalah sebagai berikut:
1.
Membuka pelajaran dengan suatu pertanyaan
menantang (start with the big question) Pembelajaran dimulai dengan sebuah
pertanyaan driving question yang dapat memberi penugasan pada peserta didik
untuk melakukan suatu aktivitas. Topik yang diambil hendaknya sesuai dengan
realita dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.
2.
Merencanakan proyek (design a plan for the
project). Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pendidik dengan
peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapakan akan merasa memiliki
atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan
aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial dengan
mengintegrasikan berbagai subjek yang mendukung, serta menginformasikan alat
dan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan proyek.
3.
Menyusun jadwal aktivitas (create a
schedule). Pendidik dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal
aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Waktu penyelesaian proyek harus jelas,
dan peserta didik diberi arahan untuk mengelola waktu yang ada. Biarkan peserta
didik mencoba menggali sesuatu yang baru, akan tetapi pendidik juga harus tetap
mengingatkan apabila aktivitas peserta didik melenceng dari tujuan proyek.
Proyek yang dilakukan oleh peserta didik adalah proyek yang membutuhkan waktu
yang lama dalam pengerjaannya, sehingga pendidik meminta peserta didik untuk
menyelesaikan proyeknya secara berkelompok di luar jam sekolah. Ketika pembelajaran
dilakukan saat jam sekolah, peserta didik tinggal mempresentasikan hasil
proyeknya di kelas.
4.
Mengawasi jalannya proyek (monitor the
students and the progress of the project). Pendidik bertanggungjawab untuk
melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek.
Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap
proses. Dengan kata lain, pendidik berperan sebagai mentor bagi aktivitas
peserta didik. Pendidik mengajarkan kepada peserta didik bagaimana bekerja
dalam sebuah kelompok. Setiap peserta didik dapat memilih perannya masing
masing dengan tidak mengesampingkan kepentingan kelompok.
5.
Penilaian terhadap produk yang dihasilkan
(assess the outcome). Penilaian dilakukan untuk membantu pendidik dalam
mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing
masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah
dicapai oleh peserta didik, serta membantu pendidik dalam menyusun strategi
pembelajaran berikutnya. Penilaian produk dilakukan saat masing-masing kelompok
mempresentasikan produknya di depan kelompok lain secara bergantian.
6.
Evaluasi (evaluate the experience). Pada
akhir proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi
dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini, peserta didik
diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan
proyek.
Berdasarkan
penjelasan tersebut, berikut ini diagram tahapan dalam pelaksanaan Project
Based Learning
Pengalaman
Belajar dan Kompetensi Dalam Penerapan Model Project Based Learning
Diskripsi
pengalaman belajar dan kompetensi yang diperoleh peserta didik dapat diperoleh
dengan menghubungkan alur/tahapan pembelajaran (learning path) dari model
pembelajaran Project Based Learning dan dihubungkan Kompetensi Abad 21, yaitu
4C: creative (berpikir kreatif), collaborative (bekerjasama), communication
(berkomunikasi), critical (berpikir kritis), dan 1Q yaitu Taqwa dengan
pendekatan Saintifik sesuai Kurikulum 2013 (K13) terintegrasi TIK, yaitu 5M:
Mengamati, Mengasosiasi, Mencoba, Mendiskusikan, dan Mengkomunikasikan.
Pengalaman belajar peserta didik selama pelaksanaan model pembelajaran project
based learning antara lain peserta didik diajak untuk peduli terhadap
masalahmasalah di lingkungan sekitar dalam kehidupan mereka sehari hari,
berlatih untuk peka pada lingkungan, belajar mencari pertanyaan esensial,
peserta didik berlatih berpikir logis, kritis, dan detil, berfikir tentang
detil pekerjaan yang harus dilakukan, berfikir asosiatif yakni menghubungkan
satu aspek pekerjaan dengan pekerjaan lainnya, berpikir tentang urutan waktu,
belajar membagi tugas sesuai minat dan kemampuan, inisiatif peserta didik untuk
mengarahkan sendiri dalam belajar, berusaha mencari sumber informasi dan
pengetahuan, peserta didik mencoba cara kerja sesuai pemahaman mereka, saling
berdiskusi dan bekerjasama, dan belajar dari kesalahan untuk kemudian
memperbaikinya sendiri.
Apa itu
kreatifitas?
James C Coleman dan Coustance L Hammen berpendapat bahwa kreatifitas adalah “Thinking which produces new methods, new concepts, new understanding, new inventions, new work of art.”. Kreatifitas adalah membawa sesuatu yang tidak ada sebelumnya, baik sebagai produk, proses atau pikiran. Kreatifitas sangat penting untuk menyiasati segala keterbatasan yang kita miliki, memecahkan masalah pada berbagai aspek kehidupan, sekaligus menghasilkan peluang atau karya baru untuk memudahkan kehidupan (pekerjaan) kita.
Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang
menghasilkan kreatifitas. Kreatifitas tidak selalu menghasilkan produk konkret,
tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, di antaranya berupa ide. Esensi dari
ide kreatif adalah tak seorang pun yang pernah memikirkannya sebelumnya. Ide
kreatif melihat sesuatu bukan dengan sudut pandang umum, melainkan dengan sudut
pandang berbeda. Ini dinamakan berpikir outside the book. Tak peduli seberapa
membosankan tampilan suatu hal, selalu ada peluang untuk membuatnya tampil
lebih baik dengan ide besar yang kreatif. Ada tiga
syarat yang harus dipenuhi dalam berpikir kreatif. Pertama, kreatifitas
melibatkan respons atau gagasan yang baru, yang secara statistik sangat jarang.
Dalam The Innovator’s DNA (dimuat dalam jurnal Harvard Business Review, Desember 2009), dipetakan empat elemen kunci untuk membangun ketajaman creative thikinking skills:
1. Elemen
1 : Associating
Mengasosiasikan atau ketrampilan asosiasi adalah sejenis kemampuan untuk mengkoneksikan sejumlah perspektif dari beragam disiplin yang berbeda, guna membangun satu gagasan yang bersifat kreatif. Seperti pendapat Steve Jobs, “Creativity is connecting things”.
Asosiasi bersandar pada kemampuan untuk menggunakan kekayaan wawasan kita pada satu bidang/disiplin ilmu tertentu, dan kemudian mencoba mengaplikasikannya dalam bidang lain, guna menghasilkan sebuah temuan baru yang inovatif. Ketrampilan asosiasi memacu kita untuk bisa berpikir lintas disiplin dan lintas bidang.
2. Elemen
2 : Questioning
Mengutip petuah Plato, “Kecerdasan seseorang tidak diukur dari seberapa bagus ia memberikan jawaban, namun dari ketrampilannya meracik sebuah pertanyaan”. Para creative thinkers adalah mereka yang secara konstan selalu mengajukan pertanyaan. Mereka selalu bertanya why, why not, dan what if untuk mendapatkan peetunjuk bagi aneka gagasan baru.
3. Elemen
3 : Observing
Dari kemampuan untuk melakukan observasi telah banyak ide kreatif dilahirkan. Tahukah Anda, di tahun 2005, seorang mahasiswa 21 tahun di Inggris bernama Alex Tew meluncurkan The Million Dollar Homepage, dimana ia menjual piksel dari grid 1000 × 1000 seharga $ 1 masing-masing. Meskipun itu ide yang sangat sederhana, proyek yang unik tersebut menarik sejumlah besar liputan pers, dan akhirnya mendapatkan $ 1.037.100 dalam hitungan bulan - slot terakhir pada halaman tersebut terjual seharga $ 38.100. Hal ini melahirkan banyak peniru website yang hampir semuanya gagal, karena ide ini tidak lagi baru.
Dan jangan lupakan fenomena ojek online di ibukota, yang memicu kelatahan beberapa pebisnis, tetapi hanya menyisakan sang pioneer dan sedikit follower yang bertahan. Bisnis ini sukses menyedot ribuan rider dari berbagai kalangan untuk bergabung, dan memperluas bentangan sayap ke kota-kota besar lain di tanah air.
Pendeknya, kemahiran melakukan observasi dan ketajaman mencium peluang inovasi dibaliknya, merupakan sejenis gen yang melekat dalam DNA creative thinker. Jadi, sering-seringlah melakukan proses observasi secara intens atas segenap situasi di sekeliling kita. Lalu, cobalah bangun imajinasi kreatif untuk meletupkan hasil observasi itu dalam serangkaian gagasan inovatif.
4. Elemen
4 : Experimenting
Ingat kisah inspirasional Thomas Alva Edison yang melakukan eksperimen sekitar dua ribu kali sebelum akhirnya menemukan bohlam penerang dunia? We might do the similar thing jika tidak mudah menyerah mencoba berbagai ide kreatif yang kita yakini bisa berhasil. Mari terus mencoba dan mencoba, demi membuktikan bahwa gagasan inovatif kita layak diwujudkan dalam kenyataan.
Indikator Berfikir Kreatif
|
Jenis
Ketrampilan Berpikir Kreatif |
Indikator |
|
Keterampilan
berpikir lancar (Fluency) |
1.
Mengajukan
banyak pertanyaan. 2.
Menjawab
dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan. 3.
Mempunyai
banyak gagasan mengenai suatu masalah. 4.
Lancar
mengungkapkan gagasangagasannya. 5.
Bekerja
lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain. 6.
Dapat
dengan cepat melihat kesalahan atau kekurangan pada suatu objek atau situasi. |
|
Keterampilan
berpikir luwes (Flexibility) |
1.
Memberikan
aneka ragam penggunaan yang tidak lazim terhadap suatu objek. 2.
Memberikan
macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar, cerita, atau
masalah. 3.
Menerapkan
suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda. 4.
Memberi
pertimbangan terhadap situasi, yang berbeda dari yang diberikan orang lain. 5.
Dalam
membahas/mendiskusikan suatu situasi selalu mempunyai posisi yang berbeda
atau bertentangan dari mayoritas kelompok. 6.
Jika
diberikan suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam cara yang
berbeda-beda untuk menyelesaikannya. 7.
Menggolongkan
hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda-beda. 8.
Mampu
mengubah arah berpikir spontan. |
|
Keterampilan
berpikir orisinil (Originality) |
1.
Memikirkan
masalah-masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. 2.
Mempertanyakan
cara-cara lama dan berusaha memikirkan cara-cara baru. 3.
Memilih
a-simetri dalam menggambar atau membuat disain. 4.
Memiliki
cara berpikir yang lain dari yang lain 5.
Mencari
pendekatan yang baru dari yang stereotip. 6.
Setelah
membaca atau mendengar gagasangagasan, bekerja untuk menemukan penyelesaian
yang baru. 7.
Lebih
senang mensintesis daripada menganalisa situasi. |
|
Keterampilan
memperinci (Elaboration) |
1.
Mencari
arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecah masalah dengan
melakukan langkah-langkah yang terperinci. 2.
Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang
lain. 3.
Mencoba
atau menguji detil-detil untuk melihat arah yang akan ditempuh. 4.
Mempunyai rasa keindahan yang kuat sehingga
tidak puas dengan penampilan yang kosong atau sederhana. 5.
Menambahkan garis-garis, warna-warna, dan
detil-detil (bagian-bagian) terhadap gambarnya sendiri atau gambar orang
lain. |
|
Keterampilan
mengevaluasi (Evaluation) |
1.
Memberi
pertimbangan atas dasar sudut pandangnya sendiri. 2.
Menentukan pendapat sendiri mengenai suatu
hal. 3.
Menganalisis
masalah atau penyelesaian secara kritis dengan selalu menanyakan “Mengapa?”. 4.
Mempunyai
alasan (rasional) yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu
keputusan. 5.
Merancang suatu rencana kerja dari
gagasan-gagasan yang tercetus. 6.
Pada
waktu tertentu tidak menghasilkan gagasan-gagasan tetapi menjadi peneliti atau
penilai yang kritis. 7.
Menentukan
pendapat dan bertahan terhadapnya. |
Daftar
Pustaka
Grant,
M.M. 2002. Getting A Grip of Project Based Learning : Theory, Cases and
Recomandation. North Carolina : Meredian A Middle School Computer Technologies.
Journal Vol. 5.
Afriana,
Jaka. 2015. Project Based Learning (PjBL). Makalah untuk Tugas Mata Kuliah
Pembelajaran IPA Terpadu. Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana.
Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Nurfitriyanti,
Maya. 2016. Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematika. Jurnal Formatif 6(2): 149-160.
Rezeki,
Rina Dewi., dkk. 2015. Penerapan Metode Pembelajaran Project Based Learning
(PjBl) Disertai dengan Peta Konsep Untuk meningkatkan Prestasi dan Aktivitas
Belajar Siswa Pada Materi Redoks Kelas x-3 SMA Negeri Kebakkramat Tahun
pelajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia(JPK), Vol. 4 No.1: 74-81.
Goodman,
Brandon and Stivers, J. 2010. Project-Based Learning. Educational Psychology.
ESPY 505.
Lestari,
Tutik. 2015. Peningkatan Hasil Belajar Kompetensi Dasar menyajikan ContohContoh
Ilustrasi Dengan Model Pembelajaran Project Based Learning dan Metode
Pembelajaran Demonstrasi Bagi Siswa Kelas XI Multimedia SMK Muhammadiyah
Wonosari. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Fakultas Teknik
Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Sumber
Online
Division
of Teaching and Learning Office of Curriculum, Standards, and academic
Engagement. 2009. Project-Based Learning: Inspiring Middle School Students to
Engage in Deep and Active Learning. New York.
http://blog.ncue.edu.tw/sys/lib/read_attach.php?id=11950 diakses 19 Januari
2019
Educational
Technology Division Ministry of Education, Malaysia. Project-Based Learning
Handbook, "Educating the Millennial Learner".
http://fliphtml5.com/ygry/apzb/basic, diakses 19 Januari 2019.
Nurohman,
Sabar. Pendekatan Project Based Learning Sebagai upaya Internalisasi Scientific
Method Bagi Mahasiswa Calon Guru Fisika. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132309687/project-based-learning.pdf
diakses 19 Januari 2019


Tidak ada komentar:
Posting Komentar